Langsung ke konten utama

Postingan

Lampu hias, politik identitas & arogansi mayoritas

Lampu hias, politik identitas & arogansi mayoritas Jelang lebaran 1442 H, wajah kota Blora dirias dengan adanya 99 lampu hias Asmaul Husna yang terpasang di seputar alun-alun dan di sepanjang jalan area pusat kota. Memang, tidak ada yang salah dengan pembuatan hiasan pada fasilitas publik yang lebih mengedepankan nilai estetika daripada aspek fungsional—walaupun harus menegaskan suatu identitas tertentu yang kebetulan juga mayoritas. Pun, pembangunan hiasan kota itu tidak menimbulkan kerugian langsung kepada masyarakat. Toh, itu merupakan “hadiah” sebagai hiburan dari perusahaan yang telah lama didamba masyarakat supaya ikut terlibat dalam pembangunan daerah. Tetapi, hal biasa tersebut berubah menjadi lebih menarik, ketika pengadaan lampu hias Asmaul Husna yang menegaskan identitas mayoritas itu, menjalar sampai melewati objek-objek bangunan yang merepresentasikan identitas minoritas; menjalar sampai ke rumah peribadatan agama lain. Hal ini, dapat menjadi indikasi serius yang melah...

Dari sentimen agama, hingga intervensi elite global

  Dari sentimen agama, hingga intervensi elite global Setiap orang pasti mendambakan sebuah kemajuan. Begitu pun kesejahteraan dan keadilan. Namun utopia tidak dibarengi dengan paradigma yang berkemajuan juga. Dan malas berfikir adalah faktor utama hambatan menggapai utopia tersebut. Ditambah dengan cara berasumsi masyarakat dengan premis yang tidak masuk akal dan landasan kesimpulan yang salah kaprah. Salah satu contohnya adalah sentimen agama dalam menanggapi fenomena yang tidak mampu kita jabarkan. Apa pun fenomena yang belum kita pahami, jawaban di garda terdepan pasti akan menyangkut agama: “Banjir di kota ini sebab pemimpinnya dzolim.” “Wah, pohon ini keluar air, bukti kebesaran Tuhan.” “Ini sudah takdir Yang Maha Kuasa.”; Sejak kapan banjir disebabkan pemimpin yang dzolim? Bukan karena penyumbatan aliran sungai oleh sampah yang dibuang sembarangan? Agama seolah dijadikan alibi oleh permasalahan yang ditimbulkan masyarakat sendiri, padahal tidak ada korelasinya sama sekali. D...

Seragam sekolah: komunisme yang setengah-setengah

Seragam sekolah: komunisme yang setengah-setengah “Seragam adalah simbol ketertindasan.” Sebuah gagasan yang menggelitik realitas dari tetangga Spongebob Squarepants, yang tidak lain dan tidak bukan adalah Squidward Tentacles. Selain menjadi mas-mas SJW yang membela nasib buruh, dan menjadi simbol perlawanan terhadap kaum borjuis di bikini bottom yang direpresentasikan oleh Mr. Krab, dia juga berhasil membawa saya pada ruang kontemplasi yang mendalam dan membuat saya bertanya tentang, “Apa fungsi seragam?”  Banyak di antara kita yang mungkin langsung menjawab “penyamarataan kasta.” Supaya si kaya dan si miskin tidak ada sekat pembatas dan membaur dengan semestinya. Tapi apakah relevan? Seragam tidak lebih hanya urusan baju dan celana, serta emblem tambahan yang sudah jadi pelengkapnya. Tapi bukan hanya itu yang melekat pada tubuh siswa. Banyak aksesoris lain yang luput dari “keseragaman” dan mampu merepresentasikan kesejahteraan pemakainya. Sepatu dan tas contohnya. Dengan sekejap ...

Euforia taqlid buta

Euforia taqlid buta “Agama adalah candu”, gagasan yang pastinya tidak asing kita dengar. Tercantum dalam tulisan karya Karl Max: A Contribution to the Critique of Hegel’s Philosophy of Right.  Gagasan yang pada akhirnya menjadi sebuah alat propaganda “negara timur”, yang menjadi basis kekuatan komunisme terbesar di dunia. Walaupun teks aslinya dalam bahasa Indonesia kurang lebih berbunyi “Agama adalah keluh kesah dari masyarakat yang tertindas, hati dari dunia yang tak berhati, dan jiwa dari keadaan yang tak berjiwa. Agama adalah opium masyarakat”. Namun, potongan “Agama adalah candu”  relevan rasanya jika dilihat dari sundut pandang politik dan bernegara. Walaupun maknanya menjadi bertolak belakang dengan gagasan Marx yang sebenarnya. Kepercayaan masyarakat pada pemerintah yang hilang, memunculkan kekosongan kepemimpinan yang dirindukan banyak orang. Sehingga, ketika muncul seorang karismatik, yang mampu memberikan sebuah alternatif, banyak orang berbondong-bondong membaiatny...

"Arogansi mayoritas” umat beragama

"Arogansi mayoritas” umat beragama Jika dalam suatu kelompok yang masif terdapat beberapa golongan, dan satu di antara golongan lain ada yang bersifat dominan, kecenderungan akan melakukan intimidasi, kekerasan, dan tindakan yang merendahkan golongan yang minoritas akan jauh lebih besar. Kita analogikan seperti kasus pengeroyokan suporter bola (A) kepada suporter bola (B). Kecil kemungkinan akan terjadi tindak kekerasan jika di kedua belah pihak memiliki basis kekuatan yang sama. Dari kedua belah pihak akan berpikir dua kali untuk memulai perkelahian. Namun, sebab di salah satu sisi suporter bola (B) sedang “lemah”, keadaan akan sangat menguntungkan sisi yang lain, dalam hal ini suporter bola (A). Terlebih lagi, di dalam suatu kelompok sudah tidak ada lagi tanggung jawab individu, melainkan semua kesalahan dipukul rata pada golongan. Satu saja individu berbuat kesalahan, satu kelompok ikut terkena imbasnya. Sebab itu, di dalam kelompok individu akan merasa lebih leluasa melakukan ...

Kalau begitu, hukum mati saja siswa penyontek!!!

Kalau begitu, hukum mati saja siswa penyontek!!! Banyak peristiwa besar yang terjadi hanya karena peristiwa kecil yang dianggap sepele. Seperti kisah penyelamatan oleh tentara inggris bernama Henry Tandey, yang mengasihani dan melepaskan seorang kurir tentara Jerman yang terluka. Namun, sebab kejadian itu lebih dari 60 juta manusia harus meninggal pada peristiwa holocaust. Ya, orang yang diselamatkan Henry Tandey bernama Adolf Hitler; kita menyebut fenomena itu sebagai, “butterfly efect”: yaitu perubahan kecil pada suatu kejadian dapat berpengaruh besar pada peristiwa setelahnya secara linear. Walaupun, ini hanya sebuah bentuk penggambaran, sebab tidak ada hubungan kausalitas yang jelas antara peristiwa satu ke yang lainnya. Namun, apa hubungannya dengan siswa penyontek? Mindset manipulatif dan tidak jujur yang tertanam pada tipikal siswa yang hobi menyontek, adalah cikal bakal mindset manipulatif dan tidak jujurnya para pejabat yang korup. Dengan kata lain, para pejabat yang doyan kor...

Kesalahan berpikir lewat paradigma papan catur

Kesalahan berpikir lewat paradigma papan catur Berpikir adalah salah satu aspek yang menjadikan kita disebut sebagai manusia secara esensial. Namun, sebagai entitas yang tidak bisa dikatakan sempurna secara mutlak, pemikiran kita pun juga terkadang bermasalah. Salah satu masalahnya penulis sebut sebagai paradigma papan catur, atau kecenderungan memandang sebuah pengetahuan akan kebenaran hanya secara dikotomi (benar dan salah) serta subjektif. Lalu, apa yang salah dalam paradigma papan catur? Sebelum menjawab, mari kita mulai dengan pertanyaan yang paling fundamental: apa itu benar dan kebenaran? Benar adalah kesesuaian antara pengetahuan dan objeknya (benar harus objektif). Sedangkan kebenaran adalah benar yang bersifat relatif. Banyak variabel yang harus diperhitungkan untuk menjadikan suatu hal bisa dikatakan sebagai sebuah kebenaran. Sebagai contoh, apakah jika saya membawa celurit itu salah? Tergantung... jika saya gunakan untuk tawuran, ya jelas salah. Kalau saya gunakan ke sawah...

sekolah favorit itu hanya MITOS!!!

Sekolah favorit itu hanya MITOS!!! Dari dulu pendidikan kita dibodohi oleh anggapan-anggapan tentang makhluk bernama “sekolah favorit”. Banyak orang tua berlomba-lomba menyekolahkan anak tercintanya di sana dengan menempuh segala cara. Tapi, mari kita mulai dengan pertanyaan dasar yang paling sederhana, “apa itu sekolah favorit?” Sekolah yang bagus fasilitasnya, katanya … berkompeten gurunya, katanya … dan kompetitif siswanya, katanya … Nyatanya?  Itu semua hanya sekedar stigma. Tidak lebih dari trik marketing untuk menarik "investor" yang tidak lain adalah wali murid kaya raya. Ah… tidak peduli mental siswa, mereka adalah "buruh" yang harus siap dicekoki apa saja. Demi nama baik sekolah favorit tercinta. Sekolah sudah berubah jadi ajang infestasi semata. Bukti empiris bisa kita lihat dengan isi sekolah favorit yang dominan kaum berduit atau anak dari keluarga elit. Lhoh, ini sekolah era kolonial atau bagaimana? Kenapa ada kesenjangan antara si miskin dan si kaya? H...

Dialog siswa radikal dan pak guru konservatif

Dialog siswa radikal dan pak guru konservatif S : “Pak, gunanya nilai itu apa sih pak? Selain sebagai formalitas yang tidak jelas implementasinya?” G : “Lho, kamu ini gimana... dengan nilai orang bisa tahu kompetensimu dalam suatu bidang, menjadi standar acuan untuk pemahaman suatu materi, dan tolok ukur perbandingan kapasitas dirimu dengan kompetitormu dalam kelas atau sekolah...” S : “Bukankah pengetahuan itu bersifat kualitatif, Pak? Dengan diberlakukannya sistem nilai kita memberi batasan definisi pada konteks pemahaman, apalagi nilai itu tidak selamanya objektif, kadang juga sifatnya manipulatif, siswa bisa menggunakan cara curang untuk mendongkrak point, atau ada pihak ketiga yang dengan sengaja mengubahnya, yakan Pak?” G : “Ya... sistem nilai itu bisa dikatakan sebagai achievement untuk kerja keras siswa dalam kesungguhannya mengikuti pelajaran” S : “Bukankah itu menjadi indikasi jika siswa didoktrin untuk mengejar nilai semata? Tapi tidak dijelaskan mengapa kita melakukan itu...

Hierarki dalam bermabuk-mabukan

Hierarki dalam bermabuk-mabukan Minuman keras, MIRAS, apa pun jenismu bukan satu-satunya yang memabukkan, ada beberapa jenis mabuk sesuai kelas dan tingkatan, tergantung pada oknum yang menjalankan. Ada yang kelas ringan, sedang, hingga membahayakan; dari yang aman, meresahkan, sampai menjengkelkan; dari kelas teri, kakap, hingga lumba-lumba, pokoknya semua ada.  Dari kelas yang paling ringan, ada mabuk perjalanan. Ini tidak membahayakan, hanya pening, tapi tidak sampai hilang kesadaran. Walau terkadang juga muntah, tapi percayalah, itu hanya gejala alamiah. memang sedikit menjijikkan, tapi saya yakin Anda pasti pernah demikian, kan? Hmm... jika iya, indikasi Anda kurang jalan-jalan. Lalu ada mabuk ( literally mabuk ) sebab minum minuman keras. Sama seperti mabuk perjalanan tapi tingkatannya sedikit ke atas. Walaupun dilarang beredar luas, kita masih bisa mengakses meskipun sangat terbatas, dan untuk mendapatkannya pun juga butuh sedikit usaha keras. Namun, jangan lupa siap-siap m...

Narasi identitas etnis yang hiperbolis

Narasi identitas etnis yang hiperbolis “Haiya… oek tidak tau a…” : sebuah penggalan percakapan yang umum untuk merepresentasikan seorang etnis tionghoa; bermata sipit, pakaian serba merah, kalimat diawali dengan “haiyaa…”, serta kosa kata bahasa yang khas sebagai pembeda antara pribumi asli, dan asingaseng etnis tionghoa itu sendiri. Karakter etnis dibedakan dengan sebuah ciri khusus untuk menimbulkan kesan kuat kepada audience, persetan dengan penggambaran yang rasional, media hanya membuat karakter tambahan bisa menjadi lebih dikenal, dengan pemaparan yang telah menjadi standart dalam media hiburan. Etnisitas ditekankan melaui logat bicara yang disenandungkan, pakaian yang menjadi identitas kultur yang membedakan, serta improvisasi yang karikatural, bahkan terkesan tidak tidak masuk akal. Sebagai contoh, etnis tionghoa digambarkan sebagai kokoh-kokoh penjaga toko, yang pelitnya sudah tidak bisa lagi dinego, serta pelafalan kata yang pelo. benar to? Namun di kehidupan nyata, orang ...

keberpihakan gender: Wanita selalu benar? Perlu dipertanyakan ulang...

keberpihakan gender: wanita selalu benar?  perlu dipertanyakan ulang...   Wanita selalu benar , statement yang selalu jadi stereotipe yang melekat pada perempuan, argumen terakhir ketika kalah dalam perdebatan, konsep baru dalam memandang sebuah permasalahan, atau menjadi landasan dalam membina suatu hubungan—yang dominan—dalam konteks percintaan, namun, dalam kasus kekerasan seksual, wanitalah yang selalu jadi objek yang disalahkan. Hmm... mengapa demikian? Laki-laki merasa punya otoritas, boleh memainkan kuasa secara bebas. Ketika nafsu bergejolak ingin terlepas, tubuh wanita di dekatnyalah yang terkena imbas. Persetan dengan hukuman, atau ancaman apa yang akan didapatkan kemudian, yang terpenting hasrat birahi telah terpuaskan, dan nafsu bejat dapat disalurkan...  Namun sangat disayangkan, wanita tidak punya ruang pergerakan, terpaksa bungkam dengan tindak kekerasan seksual yang dirasakan, terhalang dengan segala ancaman yang dilayangkan, atau pesimis dengan hukum yang...

Nikah muda plus poligami itu enak lho...

  Nikah muda plus poligami itu enak lho…   Ada beberapa golongan dalam tindakannya berjalan menuju jenjang pernikahan; Ada golongan yang tekun memupuk pundi-pundi kekayaan, demi nanti saat menikah tidak terjerat banyak biaya cicilan; Ada yang fokus ke karier pekerjaan dulu hingga mapan, supaya terlihat lebih menawan di depan calon mertua sang pujaan, plus terstempel stigma “mantu idaman”; Ada yang menunda-nunda menyatakan perasaan, dengan dalih ingin bersikap dewasa dulu sebelum menuju ke pelaminan, atau sekedar alibi sebab tidak punya nyali untuk berani mengungkapkan; dan ada juga yang berprinsip terobosajalahanying pernikahan harus disegerakan, supaya doi tidak keburu diembat orang plus segera menyempurnakan iman. Kalau ditunda-tunda, Cuma berpikir karier semata, atau sekedar melatih diri untuk “dewasa”, lha kapan nikahnya? Nikah itu harus segara, tidak perlu bertanya-tanya. Tujuannya kan yang penting tidak lagi kesepian, urusan finansial itu urusan ke sekian, besok maka...

Agama: antara topeng, tameng, dan nilai tukarnya…

 Agama: antara topeng, tameng, dan nilai tukarnya… Ada tujuh agama di Indonesia, enam diantaranya diajarkan di sekolah seperti biasa, satu lagi muncul sebab ada naluri untuk bisa berkuasa (agama politik maksud saya); Fungsi agama adalah memperbaiki moralitas, bukan alat untuk menindas, atau melanggengkan otoritas, tapi di rancah politik, antara benar dan salah hanya selisih sebelas dua belas... Di dunia politik agama juga "dipacari". Namun kesakralan dan kemurnian ajarannya terasa dikebiri. Sedikit pun tidak menyentuh nilai substansi itu sendiri; Oh… seperti itukah implementasi "agama" dari negara yang “katanya” paling religius sedunia ini? hmm... saya kira pendekatan surveinya harus dipikirkan lagi, atau jika perlu hasilnya harus direvisi. Agama juga bisa jadi alibi terkuat untuk melancarkan aksi bejat. Orang-orang berlomba berpakaian seperti ulama demi bisa meraih hati masyarakat. Dengan tipu muslihat itu banyak orang yang akhirnya terjerat, dan ...

Penyebar hoax: walau pintar memperdaya, tetap harus dibudidaya

Penyebar hoax: walau pintar memperdaya, tetap harus dibudidaya Tanpa kita sadari, hoaxer (baca: penyebar hoax) adalah orang yang berkapasitas, mereka mampu untuk menggiring opini masa dengan sebuah gagasan yang tidak jelas. Mereka juga mahir mengolah kata-kata hingga mampu memanipulasi pikiran pembacanya, ini tidak dapat dilakukan jika orang tersebut tidak punya gudang diksi-diksi di kepalannya. Tiap-tiap kosakata dipikirkan dengan saksama hingga tertata; bukti pendukung dibendung supaya tidak dirundung ketika menyebar luaskannya; sumpah serapah tercurah demi terlihat jujur apa adanya; kalian kira menjadi hoaxer gampang? O... tidak seperti kelihatannya  hoaxer juga tahu kebutuhan pasar, bagaimana menata kosakata untuk target opininya; Kaum ibu-ibu suka terlihat serba mengetahui, kalimat harus alay ala anak masa kini, apalagi mengandung gosip sana-sini, agar hoax bisa menjadi alat menebar eksistensi; Kaum terpelajar suka terlihat pintar, kalimat jangan lupa diberi bahasa ...

standarisasi kecantikan: jelek dilarang hidup!!!

standarisasi kecantikan: jelek dilarang hidup… Bulan purnama menjadi majas metafora yang umum dipakai para pujangga, apalagi untuk merepresentasikan keindahan wajah seorang wanita; cantik bersinar, elok rupanya, sedap dipandang, menjadikannya perumpamaan yang sangat pas untuk itu semua. Namun permasalahannya, para pembaca menjadikan hal itu acuan standar untuk tampil lebih sempurna. Doktrin secara tidak langsung dari tolok ukur kecantikan telah memperdaya kita semua, bahkan berimbas pada aspek kehidupan di dunia nyata; Persetan dengan rasa syukur, setiap menatap cermin selalu saja insecure. Sekali tumbuh rasa percaya diri, beberapa saat nanti juga kambuh “penyakitnya” lagi… Oke, kesampingkan insekiyur yang dirasa, permasalahan selanjutnya bukan sekedar stigma-stigma atau stereotipe yang melekat pada bulan purnama, lebih dari itu semua, mari alihkan perhatian kita sebab standarisasi sudah merambah pada dunia kerja. Lhoh kok bisa? Bukti konkret yang biasa kita jumpa, ada pada...

sekolah: siswa tidak perlu proaktif, apalagi berpikir kritis

Sekolah: siswa tidak perlu proaktif, apalagi berpikir kritis Proaktif sudah menjadi sebuah tuntutan. Keaktifan siswa dalam pembelajaran selalu saja dipertanyakan. Tidak bosan frasa “pro-aktif” disuarakan, dengan harapan mampu untuk terealisasikan. Namun, mengapa demikian? Bukankkah kita masih terjebak pada paradigma yang ketinggalan zaman? Masih tidak tepat rasanya mengimplementasikan pemikiran yang berkemajuan, apalagi yang bertolak belakang dengan sebuah kebiasaan. Siswa tidak perlu proaktif, menjadi proaktif mentok-mentok hanya dianggap pencitraan. pelakunya tidak lebih hanya menjadi bahan pembicaraan. Berubah menjadi objek nyinyiran tanpa perlu sebuah alasan—hanya pelampiasan. Menjadi proaktif artinya siap untuk dikucilkan. Dijauhi teman yang memang tidak pernah sepemikiran, dan dibenci dalam suatu lingkup pertemanan. Menjadi proaktif artinya rela menjadi babu dalam pembelajaran; bisa sebab berkompeten untuk menyelesaikan, atau memang karena tidak ada yang mau diberi beban. ...

feminisme dan penyimpangan kodrat

Feminisme, dan penyimpangan kodrat Gencar paham feminisme disuarakan. Media sosial berubah jadi arena adu komentar. Berebut pendapat siapa yang paling benar. Syariat dan emansipasi pun kini berubah menjadi hal yang berlawanan.  Feminisme bukan ajang mendominasi, atau pengalihan fungsi kodrat laki-laki. gelar pemimpin tetap tersemat pada diri sang “suami”, hanya saja seorang “istri” punya hak untuk beropini, berekspresi, dan mengembangkan diri. Tidak terkekang dengan perintah mutlak, yang terkadang hanya menguntungkan sepihak, dan berujung pada perampasan hak. Feminisme bukan ajang melepaskan diri, dari kewajiban yang harus di taati; Banyak yang menyalah arti, jika feminisme adalah gerakan menduduki posisi “tertinggi”. Menggeser apa yang seharusnya didapat laki-laki. Hingga orang-orang awam pun mulai anti, menolak sepenuh hati, tanpa dicari tahu definisi yang asli. Semua hanya bisa mengomentari tanpa data yang valid dan sanggahan yang berarti. Fem...

Polemik glowing dengan air wudhu

Polemik Glowing dengan Air Wudhu Tidak jarang kita berjumpa, seseorang yang di anugerahi paras berseri yang memanjakan mata, hingga terpana kita dibuatnya, dan mampu memancing sebuah tanya; Sebenarnya apa rahasia di balik itu semua? Beberapa orang memberanikan diri mengutarakan apa yang di rasa, berharap mendapat nikmat yang serupa, namun apalah daya? Jawaban yang diberi tidak sesuai ekspektasi, justru membuat insekiyur semakin menjadi-jadi, lalu memaksa kita untuk muhasabah diri. Bagaimana tidak? Lha saat di tanya “rahasianya apa sih ukh?”, jawabnya, “Cuma air wudhu kok, hehe...”, lhah, dikata kita tidak pernah wudhu apa? Atau wudhu kita tidak sesuai dengan hukum fikih dan sunnah Nabi? Hmm...  Di balik itu semua, benarkah air wudhu mampu mengglowingkan kulit seperti yang mereka katakan? Dari Nu’aim al-Mujmir dari Abu Hurarirah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwasanya beliau bersabda: “Sesungguhnya umatku akan didatangkan pada hari kiamat dalam keadaan...

Sentil-sentil empatisme, kutip-kutip sarkasme

sentil-sentil empatisme, kutip-kutip sarkasme bisakah _seikat bunga_ mampu mewakili sejuta kosa kata? jika ukiran nama pada batu nisan diam seribu bahasa tak lagi mampu bercerita hiruk-pikuk bangkai manusia di dalamnya  saat para orang religius karbitan bebas berkeliaran menggadai nyawa tiba-tiba berubah agamis dengan dalih mati hidup ada ditangan-Nya sambil berkoar-koar, "mari kita lawan bersama-sama....." tapi, slogan-slogan hanya menjadi retorika semata berakhir dengan tangan hampa tanpa berbuah apa-apa *** tak pernahkah engkau sadari?  kondisi saat ini sedang menepis hati ada pekerja kecil yang bertaruh nyawa demi sesuap nasi para garda terdepan menahan rindu bertemu keluarga yang mereka kasihi tapi, para pejabat seolah hibernasi dengan keadaan saat ini akankah kau tahu? di balik baju azmat terselip hati kecil yang menangis tersedu-sedu tak putus berharap kekacauan ini segera berlalu walau kisah-kisah pilu masih jelas terpatri dalam qolbu *** mana para pejuang?? mana para...

Sekolah, individualisme, dan diskriminasi

sekolah, individualisme, dan diskriminasi Kerancuan pagi para pelajar sudah menjadi hal yang wajar. Mau menjadi apa kami nanti? Jika di sekolah hanya diajari duduk termenung menghafal materi. Sekolah yang notabene adalah persiapan menghadapi kehidupan kemudian nanti, kini telah kehilangan hakikat asli definisi itu sendiri.  Pemikiran kritis dibatasi, karena beda posisi. Kebebasan berpendapat ditahan, karena dianggap tidak relevan. Siswa dituntut tunduk aturan yang absolut, tetapi hak siswa dalam mengembangkan diri ditekan untuk menciut.  Mau jadi apa kami ini? Bekal menghadapi kejamnya zaman pun tidak dikantongi, materi dijejal tanpa berpikir psikis siswa yang merangkak untuk berdiri, gambaran mengerikan kehidupan disodor tanpa diberi solusi, apakah karena kurikulum13 yang menuntut untuk siswa belajar sendiri? Sekolah adalah bukti konkret doktrin individualis sejak dini, anak dituntut menyingkirkan teman seperjuangan demi menggapai posisi tertinggi, alih-alih s...

Suluk, mendamba bukan melulu pada wanita

Suluk Tak lagi sanggup aku menahan, setiap raga ini seolah Engkau yang menggerakan. Mana mungkin aku dipaksa diam? Jika dalam setiap gerakku Engkau hadir di sisiku. menari bersama dalam indahnya angan-angan. Saling bertegur sapa dengan dzikir jahr yang ku kumandangkan. Tapi entah sampai berapa lama akan bertahan? Jika dalam kecilnya hati ini, terselip makhluk yang tak pantas aku sandingkan. Malam telah tiba, momen yang selalu didamba-damba oleh para pujangga. Ketika sunyi menerpa menggerus tawa yang telah ada, Engkau datang membawa senyum diriuhnya sedih dan lara. Satu kebiasaan yang selalu aku tunggu, ketika para salik berkumpul untuk mengadu segala keluh kesah karena tak sanggup menanggung rindu. Semua pesuluk duduk melingkar menunggu sang mursyid datang. Semua orang nampak terdiam, satu katapun tak terdengar dari bibir masing-masing orang. Hati ini sudah merasa tidak sabar lagi menunggu dimulainya pertemuan. Hingga sang mursyid datang, memimpin para pujangga bertemu yang mer...