standarisasi kecantikan: jelek dilarang hidup… Bulan purnama menjadi majas metafora yang umum dipakai para pujangga, apalagi untuk merepresentasikan keindahan wajah seorang wanita; cantik bersinar, elok rupanya, sedap dipandang, menjadikannya perumpamaan yang sangat pas untuk itu semua. Namun permasalahannya, para pembaca menjadikan hal itu acuan standar untuk tampil lebih sempurna. Doktrin secara tidak langsung dari tolok ukur kecantikan telah memperdaya kita semua, bahkan berimbas pada aspek kehidupan di dunia nyata; Persetan dengan rasa syukur, setiap menatap cermin selalu saja insecure. Sekali tumbuh rasa percaya diri, beberapa saat nanti juga kambuh “penyakitnya” lagi… Oke, kesampingkan insekiyur yang dirasa, permasalahan selanjutnya bukan sekedar stigma-stigma atau stereotipe yang melekat pada bulan purnama, lebih dari itu semua, mari alihkan perhatian kita sebab standarisasi sudah merambah pada dunia kerja. Lhoh kok bisa? Bukti konkret yang biasa kita jumpa, ada pada...
sok kritis, tapi kurang literasi: beropini hanya demi eksistensi; jika ada salah interpretasi, mohon dikoreksi.