Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label religi

Teologi yang sekuler?

  Teologi yang sekuler? Sudah menjadi rahasia umum bahwa agama dalam negara Indonesia menempati kedudukan yang membingungkan, walaupun nilai-nilai keagamaan ada di posisi pertama dari kelima sila dasar negaranya. Indonesia, bukan negara teokrasi yang menjadikan agama sebagai landasan hukum yang mutlak dijalankan masyarakatnya. Begitu pun juga bukan negara sekuler yang mengingkari ajaran agama yang dianggapnya hanya persoalan keyakinan individual saja. Indonesia, mengisi ceruk kosong di antara keduanya. Jika agama dan negara ibarat dua sejoli yang saling menaruh rasa, maka hubungan di antaranya adalah teman tetapi mesra. Lekat, namun tidak ada kepastian yang mengikat. Dikala waktu, jalinannya begitu hangat, begitu intim, sehingga mampu merajut ikatan batin yang membopong “penjual agama” untuk naik ke kursi takhta. Namun bukan tidak mungkin hubungan mesra tersebut juga berubah menjadi sebaliknya. Ketika umat beragama telah murka dan merasa tersinggung hatinya, mereka bisa mengantar...

Apa yang salah terhadap agama?

Apa yang salah terhadap agama? Kita semua tahu jika agama adalah suatu hal yang interpretatif. Sebab satu ayat dalam kitab suci, bisa dimanifestasikan dalam banyak tindakan sekaligus. Bahkan tindakan-tindakan tersebut bisa saling bertolak belakang. Seolah ajaran kitab suci saling kontradiktif, tidak konsisten, dan memiliki standar ganda. Layaknya tindakan bom bunuh diri yang dilakukan oleh umat Islam untuk membunuh kaum agama lain. Atau tindakan rela meregang nyawa dari orang Islam demi menyelamatkan kaum agama lain. Semuanya sama-sama menggunakan motif agama. Semua merasa telah melakukan kebenaran. Semua merasa tindakannya didasari pada sumber yang sama. Walaupun dari dua contoh aktual tersebut, saling memungkiri satu dengan yang lainnya. Menurut Muhammad Fethullah Gulen, agama memegang peranan penting dalam perkembangan dan penentuan jati diri peradaban manusia, pengorganisasian dalam bermasyarakat, dan penjaga nilai-nilai etika.¹ Dan agama yang memenuhi syarat sebagai pilar peradaba...

Dari sentimen agama, hingga intervensi elite global

  Dari sentimen agama, hingga intervensi elite global Setiap orang pasti mendambakan sebuah kemajuan. Begitu pun kesejahteraan dan keadilan. Namun utopia tidak dibarengi dengan paradigma yang berkemajuan juga. Dan malas berfikir adalah faktor utama hambatan menggapai utopia tersebut. Ditambah dengan cara berasumsi masyarakat dengan premis yang tidak masuk akal dan landasan kesimpulan yang salah kaprah. Salah satu contohnya adalah sentimen agama dalam menanggapi fenomena yang tidak mampu kita jabarkan. Apa pun fenomena yang belum kita pahami, jawaban di garda terdepan pasti akan menyangkut agama: “Banjir di kota ini sebab pemimpinnya dzolim.” “Wah, pohon ini keluar air, bukti kebesaran Tuhan.” “Ini sudah takdir Yang Maha Kuasa.”; Sejak kapan banjir disebabkan pemimpin yang dzolim? Bukan karena penyumbatan aliran sungai oleh sampah yang dibuang sembarangan? Agama seolah dijadikan alibi oleh permasalahan yang ditimbulkan masyarakat sendiri, padahal tidak ada korelasinya sama sekali. D...

Euforia taqlid buta

Euforia taqlid buta “Agama adalah candu”, gagasan yang pastinya tidak asing kita dengar. Tercantum dalam tulisan karya Karl Max: A Contribution to the Critique of Hegel’s Philosophy of Right.  Gagasan yang pada akhirnya menjadi sebuah alat propaganda “negara timur”, yang menjadi basis kekuatan komunisme terbesar di dunia. Walaupun teks aslinya dalam bahasa Indonesia kurang lebih berbunyi “Agama adalah keluh kesah dari masyarakat yang tertindas, hati dari dunia yang tak berhati, dan jiwa dari keadaan yang tak berjiwa. Agama adalah opium masyarakat”. Namun, potongan “Agama adalah candu”  relevan rasanya jika dilihat dari sundut pandang politik dan bernegara. Walaupun maknanya menjadi bertolak belakang dengan gagasan Marx yang sebenarnya. Kepercayaan masyarakat pada pemerintah yang hilang, memunculkan kekosongan kepemimpinan yang dirindukan banyak orang. Sehingga, ketika muncul seorang karismatik, yang mampu memberikan sebuah alternatif, banyak orang berbondong-bondong membaiatny...

"Arogansi mayoritas” umat beragama

"Arogansi mayoritas” umat beragama Jika dalam suatu kelompok yang masif terdapat beberapa golongan, dan satu di antara golongan lain ada yang bersifat dominan, kecenderungan akan melakukan intimidasi, kekerasan, dan tindakan yang merendahkan golongan yang minoritas akan jauh lebih besar. Kita analogikan seperti kasus pengeroyokan suporter bola (A) kepada suporter bola (B). Kecil kemungkinan akan terjadi tindak kekerasan jika di kedua belah pihak memiliki basis kekuatan yang sama. Dari kedua belah pihak akan berpikir dua kali untuk memulai perkelahian. Namun, sebab di salah satu sisi suporter bola (B) sedang “lemah”, keadaan akan sangat menguntungkan sisi yang lain, dalam hal ini suporter bola (A). Terlebih lagi, di dalam suatu kelompok sudah tidak ada lagi tanggung jawab individu, melainkan semua kesalahan dipukul rata pada golongan. Satu saja individu berbuat kesalahan, satu kelompok ikut terkena imbasnya. Sebab itu, di dalam kelompok individu akan merasa lebih leluasa melakukan ...

Hierarki dalam bermabuk-mabukan

Hierarki dalam bermabuk-mabukan Minuman keras, MIRAS, apa pun jenismu bukan satu-satunya yang memabukkan, ada beberapa jenis mabuk sesuai kelas dan tingkatan, tergantung pada oknum yang menjalankan. Ada yang kelas ringan, sedang, hingga membahayakan; dari yang aman, meresahkan, sampai menjengkelkan; dari kelas teri, kakap, hingga lumba-lumba, pokoknya semua ada.  Dari kelas yang paling ringan, ada mabuk perjalanan. Ini tidak membahayakan, hanya pening, tapi tidak sampai hilang kesadaran. Walau terkadang juga muntah, tapi percayalah, itu hanya gejala alamiah. memang sedikit menjijikkan, tapi saya yakin Anda pasti pernah demikian, kan? Hmm... jika iya, indikasi Anda kurang jalan-jalan. Lalu ada mabuk ( literally mabuk ) sebab minum minuman keras. Sama seperti mabuk perjalanan tapi tingkatannya sedikit ke atas. Walaupun dilarang beredar luas, kita masih bisa mengakses meskipun sangat terbatas, dan untuk mendapatkannya pun juga butuh sedikit usaha keras. Namun, jangan lupa siap-siap m...

Nikah muda plus poligami itu enak lho...

  Nikah muda plus poligami itu enak lho…   Ada beberapa golongan dalam tindakannya berjalan menuju jenjang pernikahan; Ada golongan yang tekun memupuk pundi-pundi kekayaan, demi nanti saat menikah tidak terjerat banyak biaya cicilan; Ada yang fokus ke karier pekerjaan dulu hingga mapan, supaya terlihat lebih menawan di depan calon mertua sang pujaan, plus terstempel stigma “mantu idaman”; Ada yang menunda-nunda menyatakan perasaan, dengan dalih ingin bersikap dewasa dulu sebelum menuju ke pelaminan, atau sekedar alibi sebab tidak punya nyali untuk berani mengungkapkan; dan ada juga yang berprinsip terobosajalahanying pernikahan harus disegerakan, supaya doi tidak keburu diembat orang plus segera menyempurnakan iman. Kalau ditunda-tunda, Cuma berpikir karier semata, atau sekedar melatih diri untuk “dewasa”, lha kapan nikahnya? Nikah itu harus segara, tidak perlu bertanya-tanya. Tujuannya kan yang penting tidak lagi kesepian, urusan finansial itu urusan ke sekian, besok maka...

Agama: antara topeng, tameng, dan nilai tukarnya…

 Agama: antara topeng, tameng, dan nilai tukarnya… Ada tujuh agama di Indonesia, enam diantaranya diajarkan di sekolah seperti biasa, satu lagi muncul sebab ada naluri untuk bisa berkuasa (agama politik maksud saya); Fungsi agama adalah memperbaiki moralitas, bukan alat untuk menindas, atau melanggengkan otoritas, tapi di rancah politik, antara benar dan salah hanya selisih sebelas dua belas... Di dunia politik agama juga "dipacari". Namun kesakralan dan kemurnian ajarannya terasa dikebiri. Sedikit pun tidak menyentuh nilai substansi itu sendiri; Oh… seperti itukah implementasi "agama" dari negara yang “katanya” paling religius sedunia ini? hmm... saya kira pendekatan surveinya harus dipikirkan lagi, atau jika perlu hasilnya harus direvisi. Agama juga bisa jadi alibi terkuat untuk melancarkan aksi bejat. Orang-orang berlomba berpakaian seperti ulama demi bisa meraih hati masyarakat. Dengan tipu muslihat itu banyak orang yang akhirnya terjerat, dan ...

Polemik glowing dengan air wudhu

Polemik Glowing dengan Air Wudhu Tidak jarang kita berjumpa, seseorang yang di anugerahi paras berseri yang memanjakan mata, hingga terpana kita dibuatnya, dan mampu memancing sebuah tanya; Sebenarnya apa rahasia di balik itu semua? Beberapa orang memberanikan diri mengutarakan apa yang di rasa, berharap mendapat nikmat yang serupa, namun apalah daya? Jawaban yang diberi tidak sesuai ekspektasi, justru membuat insekiyur semakin menjadi-jadi, lalu memaksa kita untuk muhasabah diri. Bagaimana tidak? Lha saat di tanya “rahasianya apa sih ukh?”, jawabnya, “Cuma air wudhu kok, hehe...”, lhah, dikata kita tidak pernah wudhu apa? Atau wudhu kita tidak sesuai dengan hukum fikih dan sunnah Nabi? Hmm...  Di balik itu semua, benarkah air wudhu mampu mengglowingkan kulit seperti yang mereka katakan? Dari Nu’aim al-Mujmir dari Abu Hurarirah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwasanya beliau bersabda: “Sesungguhnya umatku akan didatangkan pada hari kiamat dalam keadaan...

Sentil-sentil empatisme, kutip-kutip sarkasme

sentil-sentil empatisme, kutip-kutip sarkasme bisakah _seikat bunga_ mampu mewakili sejuta kosa kata? jika ukiran nama pada batu nisan diam seribu bahasa tak lagi mampu bercerita hiruk-pikuk bangkai manusia di dalamnya  saat para orang religius karbitan bebas berkeliaran menggadai nyawa tiba-tiba berubah agamis dengan dalih mati hidup ada ditangan-Nya sambil berkoar-koar, "mari kita lawan bersama-sama....." tapi, slogan-slogan hanya menjadi retorika semata berakhir dengan tangan hampa tanpa berbuah apa-apa *** tak pernahkah engkau sadari?  kondisi saat ini sedang menepis hati ada pekerja kecil yang bertaruh nyawa demi sesuap nasi para garda terdepan menahan rindu bertemu keluarga yang mereka kasihi tapi, para pejabat seolah hibernasi dengan keadaan saat ini akankah kau tahu? di balik baju azmat terselip hati kecil yang menangis tersedu-sedu tak putus berharap kekacauan ini segera berlalu walau kisah-kisah pilu masih jelas terpatri dalam qolbu *** mana para pejuang?? mana para...