Langsung ke konten utama

Euforia taqlid buta

Euforia taqlid buta

“Agama adalah candu”, gagasan yang pastinya tidak asing kita dengar. Tercantum dalam tulisan karya Karl Max: A Contribution to the Critique of Hegel’s Philosophy of Right.  Gagasan yang pada akhirnya menjadi sebuah alat propaganda “negara timur”, yang menjadi basis kekuatan komunisme terbesar di dunia. Walaupun teks aslinya dalam bahasa Indonesia kurang lebih berbunyi “Agama adalah keluh kesah dari masyarakat yang tertindas, hati dari dunia yang tak berhati, dan jiwa dari keadaan yang tak berjiwa. Agama adalah opium masyarakat”. Namun, potongan “Agama adalah candu”  relevan rasanya jika dilihat dari sundut pandang politik dan bernegara. Walaupun maknanya menjadi bertolak belakang dengan gagasan Marx yang sebenarnya.

Kepercayaan masyarakat pada pemerintah yang hilang, memunculkan kekosongan kepemimpinan yang dirindukan banyak orang. Sehingga, ketika muncul seorang karismatik, yang mampu memberikan sebuah alternatif, banyak orang berbondong-bondong membaiatnya menjadi sosok pemimpin. Apalagi membawa panji agama mayoritas. Rakyat yang membaiat semakin tunduk pada sebuah kekuasaan semu yang tidak terikat realitas. Seluruh pengikutnya melegitimasi semua yang dilakukan sang “pemimpin” entah itu benar atau salah. Sebab memang tidak punya pilihan lain. Atau memang terbuai euforia sebab termakan cinta yang buta.

Taqlid, atau mengikuti pendapat orang lain, tanpa mengetahui hukum di baliknya, adalah hal yang perlu kehati-hatian. Walaupun sebenarnya penulis tidak punya kapasitas untuk membahas tentang hukum agama, tapi taqlid buta membentuk kita menjadi pribadi yang mundur dalam berpikir. Sebab menghilangkan skeptisisme dan menerima seluruh gagasan secara mutlak, tanpa berpikir kritis.

Taqlid buta juga membangun batasan persepsi. Apa pun yang dilakukan pimpinan akan terasa benar, dan segala kejahatan akan tetap ditoleransi. Kebaikan akan sangat ditonjolkan berlebihan, dan keburukan akan dicarikan sudut pandang yang membenarkan. Dan cinta adalah tameng dari tindakan yang dilakukan. Selain tidak butuh akal rasional, cinta adalah klaim kejahatan yang klise untuk dijadikan alasan dan sama sekali tidak butuh modal.

Cinta dan mencintai memang kebutuhan manusia. Dan cinta butuh manifestasi. Mendapat seorang figur sebagai objek rasa cinta alternatif, tidak harus dimanifestasikan dengan mengerdilkan hak, kebebasan, serta rasa aman dari orang lain. Membangun sebuah gambaran rasa cinta yang dibawa sepaham dengan tindakan yang membabi buta. Apalagi sosok yang dicintai “mengatas namakan” sebuah agama. Bagi yang tidak paham, akan terjadi kesalahpahaman arti. Dakwah agama terasa kontradiksi. Dan cinta tidak selamanya suci. Sebab setiap peperangan dan permusuhan yang terjadi di dunia ini disebabkan oleh cinta yang berlebih; rasa cinta "berlebih" (dalam tanda kutip) pada agama memunculkan sikap absolutìsme keyakinan yang menggusur pluralisme dan keberagaman, cinta "berlebih" pada suku atau etnis melahirkan sikap etnosentrisme yang rawan terpicu peperangan, cinta "berlebih" hanya akan membawa kehancuran, gambaran-gambaran indah yang dibawa bersamanya tak lebih dari tipuan delusional.


Komentar