Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Sekolah

Koruptor lahir dan tumbuh dari sekolah

Koruptor lahir dan tumbuh dari sekolah Praktik korupsi di Indonesia seperti kasus Jiwasraya, kasus E-KTP, kasus proyek Hambalang, kasus BLBI, dan tentu saja masih banyak lagi kasus-kasus lain—dan akan terus muncul kasus baru—memang sangat menjengkelkan. Kendati demikian, ia sama sekali bukan fenomena yang “mengejutkan”. Sebab tidak hanya lahir sebagai permasalahan kontemporer yang baru saja dilahirkan. Tetapi telah lama ada bahkan jauh sebelum era kemerdekaan. Menciptakan pertanyaan: mengapa orang seperti itu selalu eksis di setiap zaman, dan seolah tidak pernah punah dalam runtutan sejarah panjang peradaban? Mari kita berspekulasi, membiarkan pikiran liar dan suuzan mengambil peran saat ini. Mencari "kambing hitam" mengapa budaya korupsi seolah mengakar kuat di negeri ini. Cukup berspekulasi. Sebab “memberantas” adalah tugas yang berat. Butuh integritas. Berbeda dengan hanya mengacungkan jari telunjuk ke pihak lain. Dan saya menaruh curiga, jika lembaga pendidikan kitalah pe...

Mengapa sekolah tidak mengajari kita berpikir?

Mengapa sekolah tidak mengajari kita berpikir? Waktu masih kelas 1 SD, saya sering bertanya kepada guru IPA tentang hal-hal absurd dan bersifat spontanitas yang terlintas dalam lamunan. Seperti: “mengapa bumi berbentuk bulat?”, “mengapa satelit alami bumi hanya satu, tidak banyak seperti jupiter?”, atau “jika manusia berevolusi dari kera, lalu jin dan hantu dari apa?”. Pertanyaan-pertanyaan absurd tersebut terus memberondong dan menghantui guru IPA saya bahkan terbawa sampai SMA (saya memilih jurusan MIPA hanya karena ingin bertanya). Namun, sebab pengetahuan saya lebih banyak diabandingkan diri saya ketika SD, pertanyaan saya agak berubah menjadi lebih berbobot (mungkin...). Seperti: “apakah api itu materi, atau gelombang?”, “kapan awal janin dianggap telah hidup ketika di kandungan?”, dan merembet ke masalah sosial politik seperti “kenapa pelajaran sejarah diajarkan secara parsial? Apakah ini bentuk doktrin masa orde baru?” dll.  Namun sekarang, fase tertinggi dalam gradasi imaji...

Seragam sekolah: komunisme yang setengah-setengah

Seragam sekolah: komunisme yang setengah-setengah “Seragam adalah simbol ketertindasan.” Sebuah gagasan yang menggelitik realitas dari tetangga Spongebob Squarepants, yang tidak lain dan tidak bukan adalah Squidward Tentacles. Selain menjadi mas-mas SJW yang membela nasib buruh, dan menjadi simbol perlawanan terhadap kaum borjuis di bikini bottom yang direpresentasikan oleh Mr. Krab, dia juga berhasil membawa saya pada ruang kontemplasi yang mendalam dan membuat saya bertanya tentang, “Apa fungsi seragam?”  Banyak di antara kita yang mungkin langsung menjawab “penyamarataan kasta.” Supaya si kaya dan si miskin tidak ada sekat pembatas dan membaur dengan semestinya. Tapi apakah relevan? Seragam tidak lebih hanya urusan baju dan celana, serta emblem tambahan yang sudah jadi pelengkapnya. Tapi bukan hanya itu yang melekat pada tubuh siswa. Banyak aksesoris lain yang luput dari “keseragaman” dan mampu merepresentasikan kesejahteraan pemakainya. Sepatu dan tas contohnya. Dengan sekejap ...

Kalau begitu, hukum mati saja siswa penyontek!!!

Kalau begitu, hukum mati saja siswa penyontek!!! Banyak peristiwa besar yang terjadi hanya karena peristiwa kecil yang dianggap sepele. Seperti kisah penyelamatan oleh tentara inggris bernama Henry Tandey, yang mengasihani dan melepaskan seorang kurir tentara Jerman yang terluka. Namun, sebab kejadian itu lebih dari 60 juta manusia harus meninggal pada peristiwa holocaust. Ya, orang yang diselamatkan Henry Tandey bernama Adolf Hitler; kita menyebut fenomena itu sebagai, “butterfly efect”: yaitu perubahan kecil pada suatu kejadian dapat berpengaruh besar pada peristiwa setelahnya secara linear. Walaupun, ini hanya sebuah bentuk penggambaran, sebab tidak ada hubungan kausalitas yang jelas antara peristiwa satu ke yang lainnya. Namun, apa hubungannya dengan siswa penyontek? Mindset manipulatif dan tidak jujur yang tertanam pada tipikal siswa yang hobi menyontek, adalah cikal bakal mindset manipulatif dan tidak jujurnya para pejabat yang korup. Dengan kata lain, para pejabat yang doyan kor...

sekolah favorit itu hanya MITOS!!!

Sekolah favorit itu hanya MITOS!!! Dari dulu pendidikan kita dibodohi oleh anggapan-anggapan tentang makhluk bernama “sekolah favorit”. Banyak orang tua berlomba-lomba menyekolahkan anak tercintanya di sana dengan menempuh segala cara. Tapi, mari kita mulai dengan pertanyaan dasar yang paling sederhana, “apa itu sekolah favorit?” Sekolah yang bagus fasilitasnya, katanya … berkompeten gurunya, katanya … dan kompetitif siswanya, katanya … Nyatanya?  Itu semua hanya sekedar stigma. Tidak lebih dari trik marketing untuk menarik "investor" yang tidak lain adalah wali murid kaya raya. Ah… tidak peduli mental siswa, mereka adalah "buruh" yang harus siap dicekoki apa saja. Demi nama baik sekolah favorit tercinta. Sekolah sudah berubah jadi ajang infestasi semata. Bukti empiris bisa kita lihat dengan isi sekolah favorit yang dominan kaum berduit atau anak dari keluarga elit. Lhoh, ini sekolah era kolonial atau bagaimana? Kenapa ada kesenjangan antara si miskin dan si kaya? H...

Dialog siswa radikal dan pak guru konservatif

Dialog siswa radikal dan pak guru konservatif S : “Pak, gunanya nilai itu apa sih pak? Selain sebagai formalitas yang tidak jelas implementasinya?” G : “Lho, kamu ini gimana... dengan nilai orang bisa tahu kompetensimu dalam suatu bidang, menjadi standar acuan untuk pemahaman suatu materi, dan tolok ukur perbandingan kapasitas dirimu dengan kompetitormu dalam kelas atau sekolah...” S : “Bukankah pengetahuan itu bersifat kualitatif, Pak? Dengan diberlakukannya sistem nilai kita memberi batasan definisi pada konteks pemahaman, apalagi nilai itu tidak selamanya objektif, kadang juga sifatnya manipulatif, siswa bisa menggunakan cara curang untuk mendongkrak point, atau ada pihak ketiga yang dengan sengaja mengubahnya, yakan Pak?” G : “Ya... sistem nilai itu bisa dikatakan sebagai achievement untuk kerja keras siswa dalam kesungguhannya mengikuti pelajaran” S : “Bukankah itu menjadi indikasi jika siswa didoktrin untuk mengejar nilai semata? Tapi tidak dijelaskan mengapa kita melakukan itu...

sekolah: siswa tidak perlu proaktif, apalagi berpikir kritis

Sekolah: siswa tidak perlu proaktif, apalagi berpikir kritis Proaktif sudah menjadi sebuah tuntutan. Keaktifan siswa dalam pembelajaran selalu saja dipertanyakan. Tidak bosan frasa “pro-aktif” disuarakan, dengan harapan mampu untuk terealisasikan. Namun, mengapa demikian? Bukankkah kita masih terjebak pada paradigma yang ketinggalan zaman? Masih tidak tepat rasanya mengimplementasikan pemikiran yang berkemajuan, apalagi yang bertolak belakang dengan sebuah kebiasaan. Siswa tidak perlu proaktif, menjadi proaktif mentok-mentok hanya dianggap pencitraan. pelakunya tidak lebih hanya menjadi bahan pembicaraan. Berubah menjadi objek nyinyiran tanpa perlu sebuah alasan—hanya pelampiasan. Menjadi proaktif artinya siap untuk dikucilkan. Dijauhi teman yang memang tidak pernah sepemikiran, dan dibenci dalam suatu lingkup pertemanan. Menjadi proaktif artinya rela menjadi babu dalam pembelajaran; bisa sebab berkompeten untuk menyelesaikan, atau memang karena tidak ada yang mau diberi beban. ...

Sekolah, individualisme, dan diskriminasi

sekolah, individualisme, dan diskriminasi Kerancuan pagi para pelajar sudah menjadi hal yang wajar. Mau menjadi apa kami nanti? Jika di sekolah hanya diajari duduk termenung menghafal materi. Sekolah yang notabene adalah persiapan menghadapi kehidupan kemudian nanti, kini telah kehilangan hakikat asli definisi itu sendiri.  Pemikiran kritis dibatasi, karena beda posisi. Kebebasan berpendapat ditahan, karena dianggap tidak relevan. Siswa dituntut tunduk aturan yang absolut, tetapi hak siswa dalam mengembangkan diri ditekan untuk menciut.  Mau jadi apa kami ini? Bekal menghadapi kejamnya zaman pun tidak dikantongi, materi dijejal tanpa berpikir psikis siswa yang merangkak untuk berdiri, gambaran mengerikan kehidupan disodor tanpa diberi solusi, apakah karena kurikulum13 yang menuntut untuk siswa belajar sendiri? Sekolah adalah bukti konkret doktrin individualis sejak dini, anak dituntut menyingkirkan teman seperjuangan demi menggapai posisi tertinggi, alih-alih s...