Langsung ke konten utama

Postingan

keberpihakan gender: Wanita selalu benar? Perlu dipertanyakan ulang...

keberpihakan gender: wanita selalu benar?  perlu dipertanyakan ulang...   Wanita selalu benar , statement yang selalu jadi stereotipe yang melekat pada perempuan, argumen terakhir ketika kalah dalam perdebatan, konsep baru dalam memandang sebuah permasalahan, atau menjadi landasan dalam membina suatu hubungan—yang dominan—dalam konteks percintaan, namun, dalam kasus kekerasan seksual, wanitalah yang selalu jadi objek yang disalahkan. Hmm... mengapa demikian? Laki-laki merasa punya otoritas, boleh memainkan kuasa secara bebas. Ketika nafsu bergejolak ingin terlepas, tubuh wanita di dekatnyalah yang terkena imbas. Persetan dengan hukuman, atau ancaman apa yang akan didapatkan kemudian, yang terpenting hasrat birahi telah terpuaskan, dan nafsu bejat dapat disalurkan...  Namun sangat disayangkan, wanita tidak punya ruang pergerakan, terpaksa bungkam dengan tindak kekerasan seksual yang dirasakan, terhalang dengan segala ancaman yang dilayangkan, atau pesimis dengan hukum yang...

Nikah muda plus poligami itu enak lho...

  Nikah muda plus poligami itu enak lho…   Ada beberapa golongan dalam tindakannya berjalan menuju jenjang pernikahan; Ada golongan yang tekun memupuk pundi-pundi kekayaan, demi nanti saat menikah tidak terjerat banyak biaya cicilan; Ada yang fokus ke karier pekerjaan dulu hingga mapan, supaya terlihat lebih menawan di depan calon mertua sang pujaan, plus terstempel stigma “mantu idaman”; Ada yang menunda-nunda menyatakan perasaan, dengan dalih ingin bersikap dewasa dulu sebelum menuju ke pelaminan, atau sekedar alibi sebab tidak punya nyali untuk berani mengungkapkan; dan ada juga yang berprinsip terobosajalahanying pernikahan harus disegerakan, supaya doi tidak keburu diembat orang plus segera menyempurnakan iman. Kalau ditunda-tunda, Cuma berpikir karier semata, atau sekedar melatih diri untuk “dewasa”, lha kapan nikahnya? Nikah itu harus segara, tidak perlu bertanya-tanya. Tujuannya kan yang penting tidak lagi kesepian, urusan finansial itu urusan ke sekian, besok maka...

Agama: antara topeng, tameng, dan nilai tukarnya…

 Agama: antara topeng, tameng, dan nilai tukarnya… Ada tujuh agama di Indonesia, enam diantaranya diajarkan di sekolah seperti biasa, satu lagi muncul sebab ada naluri untuk bisa berkuasa (agama politik maksud saya); Fungsi agama adalah memperbaiki moralitas, bukan alat untuk menindas, atau melanggengkan otoritas, tapi di rancah politik, antara benar dan salah hanya selisih sebelas dua belas... Di dunia politik agama juga "dipacari". Namun kesakralan dan kemurnian ajarannya terasa dikebiri. Sedikit pun tidak menyentuh nilai substansi itu sendiri; Oh… seperti itukah implementasi "agama" dari negara yang “katanya” paling religius sedunia ini? hmm... saya kira pendekatan surveinya harus dipikirkan lagi, atau jika perlu hasilnya harus direvisi. Agama juga bisa jadi alibi terkuat untuk melancarkan aksi bejat. Orang-orang berlomba berpakaian seperti ulama demi bisa meraih hati masyarakat. Dengan tipu muslihat itu banyak orang yang akhirnya terjerat, dan ...

Penyebar hoax: walau pintar memperdaya, tetap harus dibudidaya

Penyebar hoax: walau pintar memperdaya, tetap harus dibudidaya Tanpa kita sadari, hoaxer (baca: penyebar hoax) adalah orang yang berkapasitas, mereka mampu untuk menggiring opini masa dengan sebuah gagasan yang tidak jelas. Mereka juga mahir mengolah kata-kata hingga mampu memanipulasi pikiran pembacanya, ini tidak dapat dilakukan jika orang tersebut tidak punya gudang diksi-diksi di kepalannya. Tiap-tiap kosakata dipikirkan dengan saksama hingga tertata; bukti pendukung dibendung supaya tidak dirundung ketika menyebar luaskannya; sumpah serapah tercurah demi terlihat jujur apa adanya; kalian kira menjadi hoaxer gampang? O... tidak seperti kelihatannya  hoaxer juga tahu kebutuhan pasar, bagaimana menata kosakata untuk target opininya; Kaum ibu-ibu suka terlihat serba mengetahui, kalimat harus alay ala anak masa kini, apalagi mengandung gosip sana-sini, agar hoax bisa menjadi alat menebar eksistensi; Kaum terpelajar suka terlihat pintar, kalimat jangan lupa diberi bahasa ...

standarisasi kecantikan: jelek dilarang hidup!!!

standarisasi kecantikan: jelek dilarang hidup… Bulan purnama menjadi majas metafora yang umum dipakai para pujangga, apalagi untuk merepresentasikan keindahan wajah seorang wanita; cantik bersinar, elok rupanya, sedap dipandang, menjadikannya perumpamaan yang sangat pas untuk itu semua. Namun permasalahannya, para pembaca menjadikan hal itu acuan standar untuk tampil lebih sempurna. Doktrin secara tidak langsung dari tolok ukur kecantikan telah memperdaya kita semua, bahkan berimbas pada aspek kehidupan di dunia nyata; Persetan dengan rasa syukur, setiap menatap cermin selalu saja insecure. Sekali tumbuh rasa percaya diri, beberapa saat nanti juga kambuh “penyakitnya” lagi… Oke, kesampingkan insekiyur yang dirasa, permasalahan selanjutnya bukan sekedar stigma-stigma atau stereotipe yang melekat pada bulan purnama, lebih dari itu semua, mari alihkan perhatian kita sebab standarisasi sudah merambah pada dunia kerja. Lhoh kok bisa? Bukti konkret yang biasa kita jumpa, ada pada...

sekolah: siswa tidak perlu proaktif, apalagi berpikir kritis

Sekolah: siswa tidak perlu proaktif, apalagi berpikir kritis Proaktif sudah menjadi sebuah tuntutan. Keaktifan siswa dalam pembelajaran selalu saja dipertanyakan. Tidak bosan frasa “pro-aktif” disuarakan, dengan harapan mampu untuk terealisasikan. Namun, mengapa demikian? Bukankkah kita masih terjebak pada paradigma yang ketinggalan zaman? Masih tidak tepat rasanya mengimplementasikan pemikiran yang berkemajuan, apalagi yang bertolak belakang dengan sebuah kebiasaan. Siswa tidak perlu proaktif, menjadi proaktif mentok-mentok hanya dianggap pencitraan. pelakunya tidak lebih hanya menjadi bahan pembicaraan. Berubah menjadi objek nyinyiran tanpa perlu sebuah alasan—hanya pelampiasan. Menjadi proaktif artinya siap untuk dikucilkan. Dijauhi teman yang memang tidak pernah sepemikiran, dan dibenci dalam suatu lingkup pertemanan. Menjadi proaktif artinya rela menjadi babu dalam pembelajaran; bisa sebab berkompeten untuk menyelesaikan, atau memang karena tidak ada yang mau diberi beban. ...

feminisme dan penyimpangan kodrat

Feminisme, dan penyimpangan kodrat Gencar paham feminisme disuarakan. Media sosial berubah jadi arena adu komentar. Berebut pendapat siapa yang paling benar. Syariat dan emansipasi pun kini berubah menjadi hal yang berlawanan.  Feminisme bukan ajang mendominasi, atau pengalihan fungsi kodrat laki-laki. gelar pemimpin tetap tersemat pada diri sang “suami”, hanya saja seorang “istri” punya hak untuk beropini, berekspresi, dan mengembangkan diri. Tidak terkekang dengan perintah mutlak, yang terkadang hanya menguntungkan sepihak, dan berujung pada perampasan hak. Feminisme bukan ajang melepaskan diri, dari kewajiban yang harus di taati; Banyak yang menyalah arti, jika feminisme adalah gerakan menduduki posisi “tertinggi”. Menggeser apa yang seharusnya didapat laki-laki. Hingga orang-orang awam pun mulai anti, menolak sepenuh hati, tanpa dicari tahu definisi yang asli. Semua hanya bisa mengomentari tanpa data yang valid dan sanggahan yang berarti. Fem...

Polemik glowing dengan air wudhu

Polemik Glowing dengan Air Wudhu Tidak jarang kita berjumpa, seseorang yang di anugerahi paras berseri yang memanjakan mata, hingga terpana kita dibuatnya, dan mampu memancing sebuah tanya; Sebenarnya apa rahasia di balik itu semua? Beberapa orang memberanikan diri mengutarakan apa yang di rasa, berharap mendapat nikmat yang serupa, namun apalah daya? Jawaban yang diberi tidak sesuai ekspektasi, justru membuat insekiyur semakin menjadi-jadi, lalu memaksa kita untuk muhasabah diri. Bagaimana tidak? Lha saat di tanya “rahasianya apa sih ukh?”, jawabnya, “Cuma air wudhu kok, hehe...”, lhah, dikata kita tidak pernah wudhu apa? Atau wudhu kita tidak sesuai dengan hukum fikih dan sunnah Nabi? Hmm...  Di balik itu semua, benarkah air wudhu mampu mengglowingkan kulit seperti yang mereka katakan? Dari Nu’aim al-Mujmir dari Abu Hurarirah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwasanya beliau bersabda: “Sesungguhnya umatku akan didatangkan pada hari kiamat dalam keadaan...

Sentil-sentil empatisme, kutip-kutip sarkasme

sentil-sentil empatisme, kutip-kutip sarkasme bisakah _seikat bunga_ mampu mewakili sejuta kosa kata? jika ukiran nama pada batu nisan diam seribu bahasa tak lagi mampu bercerita hiruk-pikuk bangkai manusia di dalamnya  saat para orang religius karbitan bebas berkeliaran menggadai nyawa tiba-tiba berubah agamis dengan dalih mati hidup ada ditangan-Nya sambil berkoar-koar, "mari kita lawan bersama-sama....." tapi, slogan-slogan hanya menjadi retorika semata berakhir dengan tangan hampa tanpa berbuah apa-apa *** tak pernahkah engkau sadari?  kondisi saat ini sedang menepis hati ada pekerja kecil yang bertaruh nyawa demi sesuap nasi para garda terdepan menahan rindu bertemu keluarga yang mereka kasihi tapi, para pejabat seolah hibernasi dengan keadaan saat ini akankah kau tahu? di balik baju azmat terselip hati kecil yang menangis tersedu-sedu tak putus berharap kekacauan ini segera berlalu walau kisah-kisah pilu masih jelas terpatri dalam qolbu *** mana para pejuang?? mana para...

Sekolah, individualisme, dan diskriminasi

sekolah, individualisme, dan diskriminasi Kerancuan pagi para pelajar sudah menjadi hal yang wajar. Mau menjadi apa kami nanti? Jika di sekolah hanya diajari duduk termenung menghafal materi. Sekolah yang notabene adalah persiapan menghadapi kehidupan kemudian nanti, kini telah kehilangan hakikat asli definisi itu sendiri.  Pemikiran kritis dibatasi, karena beda posisi. Kebebasan berpendapat ditahan, karena dianggap tidak relevan. Siswa dituntut tunduk aturan yang absolut, tetapi hak siswa dalam mengembangkan diri ditekan untuk menciut.  Mau jadi apa kami ini? Bekal menghadapi kejamnya zaman pun tidak dikantongi, materi dijejal tanpa berpikir psikis siswa yang merangkak untuk berdiri, gambaran mengerikan kehidupan disodor tanpa diberi solusi, apakah karena kurikulum13 yang menuntut untuk siswa belajar sendiri? Sekolah adalah bukti konkret doktrin individualis sejak dini, anak dituntut menyingkirkan teman seperjuangan demi menggapai posisi tertinggi, alih-alih s...

Suluk, mendamba bukan melulu pada wanita

Suluk Tak lagi sanggup aku menahan, setiap raga ini seolah Engkau yang menggerakan. Mana mungkin aku dipaksa diam? Jika dalam setiap gerakku Engkau hadir di sisiku. menari bersama dalam indahnya angan-angan. Saling bertegur sapa dengan dzikir jahr yang ku kumandangkan. Tapi entah sampai berapa lama akan bertahan? Jika dalam kecilnya hati ini, terselip makhluk yang tak pantas aku sandingkan. Malam telah tiba, momen yang selalu didamba-damba oleh para pujangga. Ketika sunyi menerpa menggerus tawa yang telah ada, Engkau datang membawa senyum diriuhnya sedih dan lara. Satu kebiasaan yang selalu aku tunggu, ketika para salik berkumpul untuk mengadu segala keluh kesah karena tak sanggup menanggung rindu. Semua pesuluk duduk melingkar menunggu sang mursyid datang. Semua orang nampak terdiam, satu katapun tak terdengar dari bibir masing-masing orang. Hati ini sudah merasa tidak sabar lagi menunggu dimulainya pertemuan. Hingga sang mursyid datang, memimpin para pujangga bertemu yang mer...