Langsung ke konten utama

Pandemi, anti-intelektualisme, dan teroris kemanusiaan


Pandemi, anti-intelektualisme, dan teroris kemanusiaan

Beberapa hari yang lalu, ada seorang mahasiswa dari salah satu universitas ternama yang mengajak berdiskusi. Dia melontarkan statement, “vaksin itu tidak aman, itu hanya akal-akalan elit global untuk memasukkan chip ke dalam tubuh kita”. Sontak saya terkejut, dan juga skeptis. Tidak hanya pada pernyataannya, tetapi juga pada dirinya. Tanpa bermaksud mendiskreditkan, mengapa sekelas dia masih percaya hoax murahan seperti itu? Pada awalnya, saya percaya jika dia hanya ingin memantik sebuah diskusi, tanpa bermaksud mengamini. Tetapi, ternyata dia memang sangat yakin, jika apa yang dia sampaikan adalah sebuah kebenaran yang hanya diketahui segelintir orang. Memang miris, ternyata berita hoax tidak hanya menyasar pada orang dengan pendidikan yang rendah saja. Tetapi juga berhasil mempengaruhi pemikiran pelajar perguruan tinggi yang notabene dianggap memiliki pemikiran kritis.

Sudah hampir dua tahun terhitung sejak awal terdeteksi pada 1 Desember 2019, nyatanya belum bisa membuat orang bebal di sekitar kita belajar. Mereka menyangkal realitas aktual dengan delusi yang kita kenal dengan konspirasi. Menjadikannya apologi, atas kegagalan dan ketertinggalan kita dalam menghadapi pandemi. Mereka menutup ketidakmampuan itu dengan narasi-narasi yang sinis, apatis, dan manipulatif. Yang salah satunya, seperti ungkapan mahasiswa di atas. Dan contoh lainnya, seperti, “percaya kalau covid itu alami?”, “ini hanya akal-akalan bisnis elite global”, “covid disebarkan lewat jaringan 5G”, dan banyak narasi sejenis lainnya. Para pegiat konspirator itu pura-pura menutup mata, dengan korban yang bergelimpangan di depan wajahnya. Bahkan tak jarang, memberikan reaksi yang sangat jauh dari kata moral, empati, dan etika ketika melihat pemberitaan akan banyaknya korban yang disiarkan oleh media; “bukan mati covid, tapi dicovidkan”, “kuburan penuh memakai peti mati kosong atau ada isinya?”,” kenapa pasien covid masuk rumah sakit jadi mati?”, dan sangat banyak lagi contoh narasi-narasi sejenis.

Kita perlu masuk dalam ruang kontemplasi, dan berusaha membangun introspeksi diri. Sebab indikasi yang sangat miris, jika di Indonesia, berkembang wabah yang lebih berbahaya dari virus covid, bernama wabah anti-intelektualisme. Wabah yang menjangkiti mereka yang menolak himbauan dari para ahli yang telah bertahun-tahun bergelut pada bidangnya. Dan lebih memilih untuk bersikukuh, dengan hipotesis dari pihak yang tidak jelas batang hidungnya, kabur landasan spekulasinya, dan miskin akan referensi informasinya. Mereka justru membalik logika dengan mendistorsi pandemi sebagai permasalahan recehan, dan mendramatisir anak artis yang tersandung masuk selokan menjadi permasalahan berskala internasional. Jika hal ini berlanjut, herd imunity yang pernah diupayakan, akan bertransformasi menjadi herd stupidity yang tak terelakkan. 

Namun, tidak cukup sampai di situ. Munculnya para agamawan yang mencoba menjadi juru selamat pun turut ambil bagian dalam memperkeruh suasana. Dengan mendoktrin jamaahnya agar tidak takut covid, dan tidak perlu mematuhi prokes, sebab takut hanya kepada Tuhan. Saya tidak sedikit pun menyalahkan premis ketiga. Karena memang pernyataan itu benar. Namun, pernyataan tidak perlu mematuhi prokes, sama sekali tidak mencerminkan diri sebagai umat beragama. Sebagai seorang hamba, kita hanya takut kepada Tuhannya. Namun, rasa ketakutan (patuh) itu, seharusnya termanifestasi dengan takut untuk membahayakan orang lain sebagai sesama ciptaan-Nya. Karena memang, covid tidak harus ditakuti, tetapi diwaspadai. Sebab jika sakit, kita sulit untuk beribadah, bukan? Tetapi jika sentimen agama itu bergabung dengan sentimen elite global, maka hancurlah sudah. Sehingga tidak jarang, di antara kita masih mendengar ungkapan, “covid hanya rekayasa kaum kafir untuk melemahkan umat Islam”. Ada pernyataan menarik dari Kalis Mardiasih, di bukunya Hijrah jangan jauh-jauh nanti nyasar yang mewakili kegundahan hati saya:

"Di dunia ini, orang bodoh dalam beragama itu banyak, saya salah satunya, dan itu wajar saja. Namun permasalahannya, di tangan para pedagang agama, orang-orang bodoh ini malah dibikin pekok." 

Dan ironisnya, para pemangku jabatan dan pengambil keputusan pun juga tidak, atau belum bisa merepresentasikan figur yang bijaksana. Awal pandemi datang di negeri ini, justru dipandang lewat kacamata komedi. Sehingga, hanya bisa melontarkan celetukan, “covid tidak akan masuk ke Indonesia sebab birokrasinya ruwet”, atau “Indonesia kebal korona sebab masyarakatnya makan nasi kucing”. Pernyataan pseudo-kausalitas itu, tidak selayaknya untuk terucap. Kecuali, ucapan konyol tersebut diikuti oleh kompetensi dan keberhasilan pemerintah dalam menangani bencana ini. Namun kenyataannya? Terlebih, ada inkonsistensi dalam tubuh pemerintah, sebab yang satu menyuruh dirumah saja, wakilnya malah menyuruh untuk berwisata. Serta banyak kebijakan-kebijakan absurd lainnya—kalung anti corona misalnya. Mungkin, bagi negara, nyawa dari rakyatnya hanya kumpulan angka statistik semata. 

Peraturan yang dibuat hanya wajib dipatuhi oleh masyarakat kecil saja. Sebab impunitas hukum bagi pejabat adalah hal yang niscaya. Alhasil, akan menjadi konsekuensi logis, pada penerapan larangan berkerumun, para pejabat (oknum😏) justru menggelar pesta dan konser dangdut di kala pandemi. Di sekitar rakyatnya yang tertatih-tatih dikejar "mati”. Entah mati karena tertular, atau mati karena sibuk mengais makan.

Saat ini, hampir setiap hari, mushola di dekat rumah saya tidak pernah absen menyiarkan berita kematian. Duka yang semakin dalam kami rasakan itu, benar-benar membuat diri ini merasa sangat tertekan. Kita semakin takut, seolah mati di desa ini, tinggal menunggu urutan. Tidak peduli tua dan muda, dia akan mati, lalu disiarkan.

Bagi kalian yang masih percaya konspirasi, tidak perlu repot-repot berbangga diri. Seolah telah mengetahui kebenaran asli yang hanya sedikit orang mengetahui. Bagi kalian agamawan, yang menganggap diri sendiri adalah perpanjangan tangan Tuhan, untuk menjadi juru keselamatan melalui hasutan. Tidak perlu repot-repot bangga seolah mengajak umat kepada kebenaran. Dan bagi yang terhormat, para pejabat yang menari diatas penderitaan rakyat yang membayarnya. Tidak perlu menciptakan delusi sebagai pihak yang paling peduli. Sebab sejatinya, semua pihak yang saya sebut diatas, tidak lebih dari teroris kemanusiaan. Kalian adalah penghalang orang yang sekarat untuk bisa mendapat pertolongan. Sebab hasutan menyesatkan yang gencar kalian sebarkan, menanamkan rasa ketakutan mendalam kepada korban. Dan pada akhirnya, menjadikan bencana ini semakin berkepanjangan. Membiarkan nyawa rakyat Indonesia semakin banyak berjatuhan. 

Lalu, ijinkan saya lancang untuk bertanya: Apakah mati, adalah pelajaran satu-satunya untuk Anda?


Komentar