Langsung ke konten utama

standarisasi kecantikan: jelek dilarang hidup!!!

standarisasi kecantikan: jelek dilarang hidup…


Bulan purnama menjadi majas metafora yang umum dipakai para pujangga, apalagi untuk merepresentasikan keindahan wajah seorang wanita; cantik bersinar, elok rupanya, sedap dipandang, menjadikannya perumpamaan yang sangat pas untuk itu semua. Namun permasalahannya, para pembaca menjadikan hal itu acuan standar untuk tampil lebih sempurna. Doktrin secara tidak langsung dari tolok ukur kecantikan telah memperdaya kita semua, bahkan berimbas pada aspek kehidupan di dunia nyata; Persetan dengan rasa syukur, setiap menatap cermin selalu saja insecure. Sekali tumbuh rasa percaya diri, beberapa saat nanti juga kambuh “penyakitnya” lagi…

Oke, kesampingkan insekiyur yang dirasa, permasalahan selanjutnya bukan sekedar stigma-stigma atau stereotipe yang melekat pada bulan purnama, lebih dari itu semua, mari alihkan perhatian kita sebab standarisasi sudah merambah pada dunia kerja. Lhoh kok bisa? Bukti konkret yang biasa kita jumpa, ada pada persyaratan masuk pagi para pelamarnya, contoh, “syarat: berpenampilan menarik” ini secara tidak langung mengindikasikan orang jelek dilarang kerja. Bukti konkret yang lainnya, ada pada perusahaan yang menjadikan SPG sebagai ujung tombak penjualan produk-produknya. Dari yang mampu indra kita tankgap, para perusahaan memang tidak menjual kualitas barang, namun lebih ke kualitas jasa—penyegaran mata—yang secara tidak sadar mempengaruhi psikis pembelinya...

ditambah lagi tayangan iklan produk kecantikan, yang hampir semua isinya berupa bualan. Para pemeran iklan memang sudah cantik sedari awal, tanpa balutan mek ap pun mereka tentu sudah menawan, tapi itu strategi yang bagus untuk membuat para calon pelanggannya berangan, “wah, jika saya beli mungkin aku bisa cantik seperti dia”, alih-alih angannya berubah kenyataan, namun apalah daya? justru membuat acuan standar kecantikan semain melambung tajam. Belum lagi timeline instagram yang berisi para selebgram sekelas lucintaluna anya geraldine, uh... bak ditampar oleh kenyataan, dan mulai mempertanyakan, "mengapa aku hidup tuhan?"

bahkan para gamer perempuan pun begitu, skill bermain game yang mumpuni justru sangatlah tidak perlu, yang terpenting adalah bagaimana membuat klickbait yang berhasil memancing nafsu, dan menebar aurat supaya laku (channelnya...)

Don juj nde buk bai nde kafer,ah... mbelegedes. Cover masih menjadi standar wajib pada hampir semua aspek kehidupan. Orang jelek didiskriminasi hingga tidak memiliki ruang pergerakan. Seharusnya KOMNASHAM juga mengusut masalah demikian, sebab ini sudah menyangkut masalah perampasan hak orang ungoodlooking. Sabar… bagi kalian para ungoodlooking, ingat pepatah cina, “bersyukurlah masih punya wajah, sebab banyak diluar sana yang tidak memiliki wajah” seperti itu kira-kira…

peace....

Komentar

  1. Persaratan berpenampilan menarik seharusnya ditiadakan karena merupakan diskriminasi kaum jelek. Semisal ada orang jelek tapi dia rajin bersih-bersih diri, Ya dia ga bakal jadi cakep, cuma menjadi orang jelek yang bersij

    BalasHapus
  2. Tapi bisa jadi syarat berpenampilan menarik tendensi nya terhadap rambut, baju, dan segala hal yg menunjang menuju kata "rapi". Hanya saja orang" sekarang terlalu latah bahkan dalam penggunaan kalimat sehingga semua nya berbunyi sama meskipun "karepnya" berbeda

    BalasHapus

Posting Komentar