Penyebar hoax: walau pintar memperdaya, tetap harus dibudidaya
Tanpa kita sadari, hoaxer (baca: penyebar hoax) adalah orang yang berkapasitas, mereka mampu untuk menggiring opini masa dengan sebuah gagasan yang tidak jelas. Mereka juga mahir mengolah kata-kata hingga mampu memanipulasi pikiran pembacanya, ini tidak dapat dilakukan jika orang tersebut tidak punya gudang diksi-diksi di kepalannya. Tiap-tiap kosakata dipikirkan dengan saksama hingga tertata; bukti pendukung dibendung supaya tidak dirundung ketika menyebar luaskannya; sumpah serapah tercurah demi terlihat jujur apa adanya; kalian kira menjadi hoaxer gampang? O... tidak seperti kelihatannya
hoaxer juga tahu kebutuhan pasar, bagaimana menata kosakata untuk target opininya; Kaum ibu-ibu suka terlihat serba mengetahui, kalimat harus alay ala anak masa kini, apalagi mengandung gosip sana-sini, agar hoax bisa menjadi alat menebar eksistensi; Kaum terpelajar suka terlihat pintar, kalimat jangan lupa diberi bahasa asing atau sulit dicerna akal, dan tertata rapi seperti jurnal penelitian; Anak muda suka konspirasi, setiap opini disisipi fakta yang jarang diketahui, apalagi yang tidak ada korelasinya sama sekali, hanya bergantung cocoklogy; Kaum agamis karbitan suka memancing keributan, karena itu kalimat harus mengandung ajakan kesesatan, apalagi jika ada tambahan mendukung suatu gerakan, (~sensor~); uh... kalian kira hoaxer gampang? Perlu latihan berbulan-bulan...
hoaxer juga memanfaatkan stereotip masyarakat Indonesia yang ogah baca, namun ingin wawasannya nyundul cakrawala, karena itu, berita hoax tidak panjang-panjang, cukup singkat, padat, jelas (bagi orang awam) dan tentunya harus meyakinkan. Masalah meyakinkan adalah hal gampang... sebab bakat-bakat alamiah mereka memang diwariskan dari leluhur nenek moyang. Ditambah kebanyakan masyarakat Indonesia mudah untuk percaya, hanya menerka, tanpa mencerna...
Sebenarnya opini hoaxer mengandung satire yang sarkas, menunjukkan betapa bodohnya masyarakat kita yang sok keras, sebab begitu saja percaya pada berita yang tak jelas, namun apalah daya? Bebal serta bodohnya sudah tembus sampai DNA, susah untuk menghilangkannya; saran saya, adakan bab khusus pada mata pelajaran bahasa Indonesia tentang cara membuat berita hoax, atau tambahkan jurusan pembuat hoax pada universitas, selain bisa menjadi tim oposisi bagi para lulusan jurnalistik, pembuat hoax juga punya prospek kerja cerah pada rancah politik, yang berfungsi untuk membuat lawan perebutan jabatan tidak berkutik.
selain itu, hoax sama dengan berpendapat, jika kalian mencegah orang berpendapat, anda tidak demokratis, urusan terhasut atau tidak kan salah yang baca, siapa suruh dia terpedaya? Selain itu, berita hoax juga bisa menjadi quality control untuk daya berpikir kritis serta bersikap skeptis rakyat Indonesia. Jadi, jangan lupa, budayakan HOAX!!!!

Iya, tapi nama anda tolong diganti
BalasHapuskan memang nama saya itu, mau diganti apa lagi?
HapusGapapa si :)
HapusSecuil humanoid, kek apa gitu pernah tau soalnya
Hapushmm bener, ada yang pernah bilang seperti itu, dan saat saya cari, ada nama ig secuilhumanoid, supaya tidak disangka beliau, saya sertakan nama saya, toh juga tidak menggunakan hak paten
Hapus